Minggu, 05 Juni 2011

02.10.2007 [00.48]


Malam ini langit tampak lebih merah dari biasanya
Kumpulan bintang pun seolah-olah enggan untuk menampakkan dirinya
Semakin lama aku melihat langit, semakin larut aku dalam kesedihan
Sampai kapan aku harus menjalani hidup seorang diri?
Aku juga ingin seperti yang lain, bisa merasakan indahnya memiliki dan dimiliki

Rabu, 02 Maret 2011

KISAH MOBIL IRIT



Suatu hari dalam sebuah perjalanan kembali dari kota Sidoarjo menuju kota Malang

Ibu : Bapak, nggak isi bensin dulu? Sudah dipakai keliling-keliling kok nggak diisi lagi, memangnya masih cukup?
Bapak : Masih cukup kok, ini aja masih kurang satu garis (sambil melihat kearah meteran bensin)
Ibu : Hebat ya, irit banget
Bapak : Iya lho, padahal pemakaian dari bapak isi bensin Rp 100.000,- kemarin itu,
sudah 250km

Nggak berapa lama dari bapak selesai bicara, tiba-tiba jalan mobil ndut-ndutan terus mati mendadak pas di pertigaan lampu merah dekat alun-alun kota Sidoarjo.

Ibu : Lho pak, knapa mobilnya?
Bapak : Nggak tau nih bu, kok tiba-tiba ngadat gini ya?
Ibu : Bensinnya habis kaliiiii……..
Bapak : nggak ah, orang di meterannya masih nunjukin ¼ tangki kok
Ibu : Apa mungkin karena terlalu panas ya?
Bapak : Nggak ada hubungannya sama panas

Agak penasaran aku yang duduk di bangku belakang melongok ke arah dashboard di depan kemudi

Aku : Yaaaaaah….bapak, ini mah bensinnya yang habis. Gitu kok bapak bilang
masih ada?
Bapak : Lho, bukannya masih ada mbak? Lha itu apa?
Aku : Yang bapak liat dari tadi itu meteran untuk accu, bukannya bensin. Kalo bensin meterannya yang di atas, bukan yang di bawah. Tuh lihat, yang diatas udah nunjukin ke garis merah.

Kita semua langsung ketawa sekenceng-kencengnya setelah menyadari kesalahan ini…

Bapak : Ya udah mbak, kamu yang nyetir mobilnya biar bapak dorong
Aku : Mana bisa aku nyetir
Ibu : Halah, tinggal megang setir tok ae
Aku : Walah bu, kalo Cuma nyetir motor ae aku bisa. Lebar motor sama lebar badanku sama, jadi bisa ngira-ngira jarak kanan kiri ku. Kalo mobil kan laen.
Ibu : Ya udah kalo gitu kita aja yang dorong mbak, biar bapak yang nyetir
Aku : Oke (sambil celingukan nyari POM Bensin terdekat)

Udah kota Sidoarjo hawanya anget, puasa-puasa pake acara dorong mobil segede bagong lagi. Nasiiiib….nasiiib….. Tapi untungnya jarak 500 meter ada orang jual bensin eceran, untuk sementara bapak belikan dulu 2 liter bensin. Asal mobil bisa jalan sampai ketemu POM Bensin terdekat.

Bapak : Hahahahahaha……kalo gini lak poleh ngetarani kalo pake mobil pinjeman
Ibu : Bapak nggak tau, tadi pas ibu sama mbak ndorong mobil orang-orang podho nyurak i pas tau yang turun buat ndorong cewek-cewek dua guedhe-guedhe

Selama perjalanan kita jadi nggak berenti ketawa. Tapi kalo dipikir-pikir sih emang mobil ini irit, buktinya mobil diisi bensin Rp 100.000,- dan setelah 250km baru habis. Unforgetable moment deh, harap maklum namanya juga mobil baru. Baru belajar ngenalin mobil hehehehehehehe…………

Senin, 24 Januari 2011

Buku Do'a & Zikir Khusus Wanita



Buku ini berisi kumpulan Do'a dan Zikir yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw kepada putri tercinta beliau, Fathimah az Zahra. Begitu banyak do'a dan amalan-amalan baik yang dapat diterapkan oleh wanita muslim dalam menjalani kesehariannya. Seperti zikir wanita dalam satu minggu, zikir agar cepat mendapat jodoh, zikir agar keluarga harmonis, zikir & amalan saat hamil dan yang lainnya.

Penulis :Muhammad Alcaff
Penerbit : Zahra

Selasa, 09 November 2010

BERSAMA ALAM KAMI BERHIMPUN



Buku ini merupakan sebuah Journal Perjalanan dari salah satu klub pecinta alam "YEPE", begitu banyak yang mereka ceritakan mulai dari awal pendirian YEPE, visi juga misi dan semua expedisi yang pernah mereka lakukan sampai dengan saat ini (41th sudah mereka ada).
Begitu banyak hal yang bisa kita ambil dan kita terapkan dari semua cerita yang tertulis disini, bagi para pecinta alam bersiap-siaplah untuk ber-adventure saat membaca buku ini dan bagi kalian yang kurang suka berkgiatan di alam, maka kalian akan tahu betapa serunya ber-adventure dan begitu banyak hal yang bisa kita dapat. Tidak hanya melulu tentang naik gunung, camping atau masuk hutan, tapi disini kita juga bisa melihat bahwa YEPE juga mengajarkan tentang Kepemimpinan, reporting, palnning juga yang lainnya.
Pada intinya, kalian semua pasti suka saat membaca buku ini, betul-betul membuat kita merasa apa yang mereka rasakan “BERSAMA ALAM KAMI BERHIMPUN”
Selamat membaca dan saluut untuk Pendiri YEPE dan para aktivisnya^^

Minggu, 24 Oktober 2010

MERAIHMU


Lima tahun sudah ku mengenalnya sebagai seorang sahabat yang selalu mendengar keluh kesahnya akan semua masalah yang sering ia hadapi mulai dari masalah keseharian, pekerjaan sampai percintaan. Sahabat yang selalu keluar juga beraktivitas bersama, karena kebetulan kita berdua punya hobby yang sama. Aku suka bersahabat dengannya karena ia humoris, aktif, talkative, tomboy, jahil dan yang pasti nggak pernah neko-neko. Sering aku dibuatnya tertawa terpingkal-pingkal karena candanya, tingkah lakunya yang terkadang konyol, ucapan-ucapannya yang sesekali polos. Sering juga aku dibuatnya berpikir sangat serius karena harus menemukan solusi untuk beberapa permasalahan yang sering dihadapinya. Selama lima tahun aku bersahabat dengannya, aku cukup mengenalnya sampai-sampai teman-teman, keluarga juga pacarnya juga cukup dekat denganku, bahkan pacar barunya ini sering bertanya padaku apa yang harus dia lakukan tiap kali pacarnya yang badung itu marah padanya. Sebetulnya usia kita berdua berbeda, aku 3th lebih tua darinya, tapi perbedaan usia kita nggak sedikitpun menghalangi hubungan persahabatan kita. Aku suka setiap kali mendengar kata-kata Mas saat ia memanggilku, dan ia juga minta padaku supaya memanggilnya “Dik”, bukan namanya saat berbicara dengannya “Supaya lebih akrab” katanya. Dia juga pernah berucap kalau dia sudah menganggapku nggak cuma sebagai sahabat, tapi juga sudah seperti kakaknya sendiri dan itu yang membuatnya nggak pernah canggung untuk bermanja-manja padaku.

Pernah suatu hari dia cerita padaku kalau dia merasa lelah karena di usianya yang sudah menjelang 30th masih juga belum menemukan calon pendamping hidup yang tepat seperti yang ia harapkan. Setiap kali berhubungan, selalu ada aja kekurangan dari pacarnya. Sampai pernah kubilang padanya “Dik, jadi orang jangan terlalu memilih, nggak semua orang sempurna, nggak ada orang yang punya semua kriteria seperti yang kau mau”, tapi dia cuma tertawa menanggapi komentarku sambil melirik ke arahku dan bergumam “Yaaa aku kan pengen hidup nyaman mas, siapa sih yang mau hidup susah?” yang ia pikir aku takkan mendengar apa yang ia katakan. Aku sayang padanya seperti aku menyayangi adikku sendiri, sampai-sampai aku selalu siaga kapanpun ia butuhkan, aku akan ada disisinya untuk mendengarkan juga membantunya menyelesaikan masalahnya. Tapi beberapa bulan ini aku merasa ada perasaan yang lain ketika berdekatan dengannya, apa mungkin aku mulai suka dengannya? Ah….. jangan sampai, aku nggak mau ngerusak hubungan persahabatan ini, apalagi dia sudah punya pacar. Tapi….. semakin aku menyangkal perasaan ini, semakin kuat rasa ini menyelimuti hatiku. Aku mulai cemburu tiap kali melihatnya pergi dengan pacarnya. Aaaaargh…. Ada apa denganku? Aku nggak mau melukainya karena perasaan ini. Apalagi aku dulu pernah berjanji padanya kalau aku takkan pernah mencintainya sebagai pacar.

Aku mulai galau, tanpa sepengetahuannya aku mulai menghubungi semua mantan pacarnya untuk menanyakan beberapa hal tentangnya yang tak kuketahui. Kutemui pacar pertamanya, 2th dulu ia berhubungan dengannya. Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatanganku, akupun mulai bertanya padanya “Mas… kalau saya boleh tau, apa permasalahan yang dulu menyebabkan hubungan kalian putus? Dan kalau saya boleh tau, apa kelebihan dan kekurangan Sari dimata mas?”, Mas Nunk tersenyum dan menjawab “Dulu saya pernah berbuat salah padanya, saya pernah menduakan dia. Saya terlalu posesif, padahal saya tau dari semua kegiatan disekolah dia tipe anak yang mandiri bebas nggak suka terlalu dikekang. Yang saya suka darinya, dia mandiri dan nggak pernah nuntut minta diantar atau dijemput kemanapun ia pergi. Dan yang nggak saya suka darinya cuma cara bergaulnya, sebetulnya nggak salah kalau dia punya banyak teman laki-laki, tapi dia nggak pernah menghiraukan saya kalau saat bersamanya tiba-tiba ada teman-temannya itu datang.”, Aku mengangguk-angguk mendengarkan penjelasannya, dan aku juga mencatat semua perkataannya dalam otakku.

Hari berikutnya aku mendatangi pacar keduanya dan memulai percakapan seperti apa yang sudah kulakukan pada pacar pertamanya. Mas Arto yang sempat menjalin hubungan dengannya selama hampir 2th pun mulai bercerita padaku “Entah ya mas, apa yang salah dalam hubungan kita dulu. Masalah kita waktu itu cuma jarak aja, saya kerja di luar kota sementara dia masih kuliah di Malang. Cuma itu aja kok, kalau soal kelebihannya yang saya suka adalah sifat humoris dan jahilnya. Dulu saya pernah dijahili sampai saya teriak dan hampir copot jantung saya karena ulahnya, jadi ceritanya dulu dia pernah kasih saya amplop yang katanya obat stress tapi begitu saya buka ternyata amplop itu bergetar dan mengeluarkan bunyi aneh, dan itu yang membuat saya berteriak sambil melemparkan amplop itu. Saat itu saya lihat Sari tertawa terpingkal-pingkal karena puas sudah bisa menjahili saya, saya nggak akan pernah melupakan kejadian itu sampai kapanpun”. Mendengar ceritanya aku ikut tertawa, ternyata sudah banyak korban kejahilannya.

Beberapa hari berikutnya aku menghubungi pacar ketiganya yang katanya hubungan mereka hampir 3th, dan ini hubungan terlama dalam sejarah percintaannya. Karena mas Putra tinggal diluar pulau, jadi aku cuma bisa menghubunginya via telepon. Sedikit canggung aku mulai bertanya padanya, karena sepengetahuanku Sari tak pernah memberi nilai buruk setiap kali ia menceritakan kisah cintanya dengan mas Putra, itu berarti besar kemungkinan kalau mas Putra ini tipe ideal yang dia cari. Dengan nada bicara yang dewasa mas Putra menjawab pertanyaanku “Masalah dalam hubungan kita cuma di perbedaan keyakinan, saya dan Sari tidak bisa menemukan titik temu juga jalan keluar dari permasalahan ini. Keluarga kita berdua jelas-jelas menolak hubungan kita, sampai akhirnya kita memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kita. Karena saya takut ia tidak bisa melupakan saya, akhirnya saya menghindarinya dan menghilang dari kehidupannya. Hal yang paling saya suka darinya, dia mandiri, tegas setiap mengambil keputusan dan nggak seperti perempuan-perempuan lain ia jarang sekali ngambek. Kalau hal yang paling nggak saya suka ya cara ia bergaul dengan teman-teman cowoknya, Sari nggak pernah menganggap dirinya perempuan tiap kali ada diantara mereka. Kalau dia bersikap seperti itu cuma sama saya sih nggak apa-apa ya mas, tapi saya nggak rela kalau Sari diperlakukan seperti itu sama cowok-cowok lain.”.

Selesai urusanku dengan mas Putra, kini aku melanjutkan menghubungi mas Bowo. Dulu ia pernah cerita padaku awal perkenalannya dengan mas Bowo karena dikenalkan sama keluarganya, dan hubungan mereka hanya sebatas lewat telepon karena mas Bowo kerja diluar pulau dan setahu aku, mereka berdua dari memulai hubungan sampai mengakhiri hubungan nggak pernah sekalipun bertemu. Sebuah hubungan yang janggal menurutku, menjalani hubungan hanya lewat telepon dan saling mengenal hanya lewat selembar foto? Dari saluran telepon diseberang sana kudengar suara mas Bowo dengan logat Jawanya yang kental berusaha membagi kisahnya denganku “Heemm… kalau saya sama dik Sari dulu masalahnya karena sebetulnya disini saya sudah punya pacar. Salah memang saya karena sudah membohonginya dulu, tapi saya suka sama dik Sari karena kita selalu nyambung saat berkomunikasi. Hanya saja saya kurang suka setiap kali ia menuntut saya untuk melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi, maklum mas…saya ini cuma tamatan STM, beda dengan dik Sari yang Sarjana. Menurut saya, apa yang salah dari pendidikan saya, toh atasan saya yang Sarjana tidak lebih baik kerjanya dibanding saya. Tapi dik Sari sepertinya sangat memperhatikan masalah pendidikan, ia juga pernah bilang sama saya tentang menuntut ilmu itu nggak ada batasan usia, sampai kapanpun manusia itu harus tetap belajar supaya bisa bertahan hidup dijaman yang keras ini.”, aku setuju sama pendapatnya yang terakhir tentang betapa pentingnya pendidikan.

Aku mulai memahami beberapa kriteria yang ia mau dari penjelasan mantan-mantan kekasihnya. Dan kini aku tinggal cari satu lagi informasi dari mantan pacar terakhirnya mas Tian. Dari mas Tian yang dulu pernah dekat dengannya selama 2th lebih, aku jadi tau kalau ia saat ini mencari suami yang sudah siap untuk menikah bukannya pacar. Dan menurut mas Tian, hubungan mereka nggak bisa lanjut karena mas Tian masih belum bisa memenuhi kemaunnya untuk segera menikahinya dalam waktu dekat karena masalah financial yang masih belum mencukupi.

Dengan bermodalkan informasi yang sudah kudapat dari semua mantan-mantannya, aku mulai mengambil kesimpulan. Dan kini aku berusaha untuk lebih mengenalnya lagi dan mengumpulkan keberanian dalam diriku untuk mengutarakan perasaanku padanya. Tapi aku takkan mengutarakannya saat ini, karena dia masih menjalin hubungan dengan pacarnya. Mungkin nanti setelah ia sendiri dan tak ada yang memiliki. Atau mungkin tak akan pernah kuutarakan padanya, karena aku tak mau melukainya seperti pria-pria yang lain, aku tak mau mebuatnya menangis lagi. Kurasa, cukup aku saja yang tahu tentang perasaanku padanya. Dan hubungan kita akan tetap seperti ini sampai kapanpun juga. Aku akan mencoba mencari kekasih hatiku sendiri yang mungkin mempunyai sifat-sifat sepertinya, yang pasti bukan dia. Tapi kalaupun Allah berkehendak lain dan menjodohkan aku dengannya, aku akan berusaha untuk mendapatkan hatinya dan menjaganya sepenuh hatiku. Wo Ai Ni Sari siaoce, sampai kapanpun………..

Sabtu, 23 Oktober 2010

MY SILLY VALENTINE


Hari ini yang kata orang2 adalah hari kasih sayang, aku punya sedikit pengharapan darinya. Aku ingin ia hari ini mengingatku dan sekali lagi mengucapkan kata cintanya padaku, hanya itu. Aku tak menuntutnya untuk datang padaku dengan membawa bunga mawar, aku hanya menanti ponselku berdering entah itu telepon atau hanya sekedar sms darinya.

Entah kenapa sampai saat ini aku masih mengharap keajaiban datang menghampiriku, walaupun aku tahu kalau ia sudah tak peduli lagi padaku. Aku sangat mencintainya dan aku belum bisa menerima kalau ia sudah tak mencintaiku lagi. Terakhir kali ia meneleponku di hari ulang tahunku 2 bulan yang lalu, sikapnya masih sama saat itu. Perhatian yang ia berikan padaku masih seperti yang dulu. Entah kenapa sejak tahun baru kemarin tiba-tiba saja ia menghilang dan pergi dariku. Tapi aku masih tetap berharap bahwa ia masih menyimpan cintanya untukku.

Dari pagi tadi hingga sore ini, tak sekalipun ponselku berbunyi. Sampai saat aku pulang dari tempat kursus, begitu aku keluar kelas. Dalam gelap kulihat sosok laki-laki dihalaman tempat kursus, duduk memainkan ponselnya. Seorang pria berkacamata, kurus badannya yang dibalut jaket hitam, celana bahan, cuek dengan keadaan sekitar. Dug dug dug, jantungku tiba-tiba saja berdegup kencang. Apakah itu betul-betul dia yang ada didepan mataku? Apakah dia sengaja datang untuk memberi kejutan untukku, tiba-tiba datang menjemputku? Aku mematung di depan kelas memandangi sosok tersebut. Aku tak dapat berkata-kata, hanya beribu-ribu angan berdesak-desakan didalam kepalaku, beribu-ribu rasa rindu juga cinta berdesak-desakan di dalam dadaku. Andai saat itu aku bisa langsung berlari menghampiri dan memeluknya, akan kuungkapkan semua isi hatiku padanya. Tapi aku tak bisa, aku hanya terdiam berdiri selama bermeni-menit disana. Tuhan, bantu aku menenangkan perasaan ini.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja sosok pria itu melihat ke arahku. Mungkin ia merasa kalau selama ini aku telah memperhatikannya. Tapi pada saat ia melihatku, jantungku rasanya berhenti berdetak. Kupandangi lekat-lekat wajahnya dalam gelap. Ternyata itu bukan dia, huuhh…… betul-betul bodoh. Ini hasil yang kudapat sebagai manusia pemimpi, selalu mengharapkan sesuatu yang jelas-jelas takkan mungkin terjadi. It’ll be my silly valentine ever hahahahaha…… silly me

Sabtu, 09 Oktober 2010

MILIKKU


Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 wib, tapi dia masih sibuk di dapur untuk membersihkan piring, gelas juga panci kotor bekas makan malam kita. Dilapnya meja makan dari bekas minyak, disapunya lantai karena ada beberapa makanan yang tercecer. Sudah kutegur dia agar segera menyudahi kegiatannya, tapi hanya jawaban “ya” yang kudengar dari mulut mungilnya dan dia tetap melanjutkan kegiatannya. Dia seperti hidup dalam dunianya sendiri, menikmati apa yang sedang dia kerjakan. Padahal sebelum-sebelumnya dia tidak serajin sekarang, tapi semenjak dia mengandung anak pertama kami sifat malasnya tiba-tiba saja hilang. Kalau kata orang tua sih itu bawaan si jabang bayi, yaaa…..semoga saja anakku nantinya jadi anak yang soleh/solehah, pintar, beriman, sabar dan rajin seperti sikap ibunya saat ini.
Kupeluk dia dari belakang dan merayunya untuk segera beristirahat, kuraih piring kotor yang sedang di cuci dari tangannya untuk ku selesaikan. Hanya dengan jurus andalan itu dia baru mau berhenti dari aktivitasnya. Dia akhirnya duduk di kursi dekat tempat cuci piring sambil menungguiku menyelesaikan pekerjaan yang tadi dia kerjakan sambil sesekali meledek hasil pekerjaanku yang dinilainya kurang bersih. Apapun yang dia katakana selalu kubalas dengan senyuman, karena bagiku semua ucapan yang dia tujukan untukku adalah ungkapan rasa sayangnya kepadaku.
Akhirnya selesai sudah semua pekerjaan membersihkan dapur, sembari mengeringkan tanganku dengan kain lap aku bertanya padanya “Dik, kenapa sih semua piring kotor itu nggak dicuci besok aja?” sambil tersenyum dia menjawab pertanyaanku “Masku sayang, kalau pekerjaan hari ini sudah selesai kan besok aku bisa memulai pekerjaan baru. Nggak harus beresin pekerjaan semalam dulu, jadi cepat selesai kan. Aku kan bisa berangkat kerja lebih pagi toh mas. Jadi, pekerjaan hari ini diselesaikan hari ini, pekerjaan besok ya diselesaikan besok. Malah kalo bisa pekerjaan untuk besok mulai dikerjakan hari ini, jadi besok pekerjaan jadi lebih ringan”. Kuhampiri dia, kuajak untuk masuk kedalam kamar dan beristirahat.
Tidur disisinya selalu membuatku merasa nyaman, kepalanya bersandar di dada bidangku, kubelai rambutnya, kuelus lembut perutnya yang kini mulai terlihat membesar karena buah cinta kita berdua tumbuh didalam sana sambil berbincang-bincang ringan sebelum kita berdua akhirnya tertidur. Ditengah malam aku merasa ada yang mengguncang-guncang tubuhku, terdengar suara halus memanggil “maas…maas…banguun…”. Ternyata dia yang membangunkanku, sipit mataku berusaha menyesuaikan terangnya lampu kamar, pelan-pelan aku menarik badanku duduk dan bersandar. Aku bertanya padanya “Ada apa tooh diiiik, ini kan sudah malam. Besok kamu masuk pagi kan?”, sambil bersungut-sungut manja dia berkata “Aku nggak bisa tiduur, geraah. Temenin aku sampai aku tertidur ya mas, please…”. Aku tersenyum, sambil kupeluk aku berkata padanya “Pastilah mas temenin adik, masa iya mas tega ngebiarin kamu terjaga sendirian dik”. Kulihat mata berbinar waktu aku memanggilnya dengan adik, sama seperti saat pertama kali aku memanggilnya “Adik” waktu itu. Waktu menikah dia pernah bilang padaku “Mas tahu nggak, waktu pertama kali mas panggil dik ke aku dan bukan namaku lagi yang mas ucapkan. Aku betul-betul senaaaaaang sekali, aku merasa betul-betul dilindungi sama mas, merasa betul-betul diperhatikan sama mas. Dan ternyata mas memang tipe seperti itu, perhatian dan penyayang”. Kupeluk dan kuciumi dia waktu itu, aku betul-betul senang mendengar pengakuannya yang polos.
Sambil kubelai-belai rambutnya, kukipasi dia supaya dia bisa beristirahat dengan nyenyak. Usahaku untuk mengipasi dia ternyata nggak membutuhkan waktu lama, akhirnya dia bisa tertidur pulas dalam pelukanku. Kupandangi wajah bidadari yang paling kucintai, yang saat ini sedang berjuang untuk merawat buah cinta kami yang dia bawa dalam rahimnya. Aku sangat bersyukur karena Allah sudah memberikan istri yang terbaik untukku, dia milikku dan akan kujaga sampai akhir hayatku. “Dik, aku janji…aku akan menjagamu juga anak-anak kita, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi suami juga bapak yang terbaik untuk mu juga untuk anak-anak kita. Tolong ingatkan aku jika suatu hari nanti aku lupa atau mengingkari janjiku ini, aku nggak mau melukaimu dik”, kubisikkan isi hatiku ditelinganya dan dia mengangguk. Entah karena dia mengiyakan ucapanku atau dia beringsut karena merasa nyaman berada dalam pelukanku. I Luv You Dik